gunung bromo
11 Mar

2016 kemarin, Teknisi Benua Mesin menjelajah Jawa Timur untuk melakukan inspeksi mesin tahunan. Wilayah dengan ikon gunung Bromo ini terbilang sejuk, setidaknya tidak sesuram Jakarta. Satu-satunya kota yang begitu berani menandingi panas dan macetnya Jakarta adalah Surabaya. Kami turun di Juanda menuju Tambaksari. Disana ada satu pelanggan mesin cup Sealer GD series 2 line. Pemilik, Pak Michael, membeli mesin tersebut di tempat kami dua tahun lalu. Tidak banyak kerusakan berarti, filling dan sealing part masih normal. Cetakan coding juga masih sangat jelas, pengecualian untuk penderita minus stadium 5 yang melihat cewek cantik sudah seperti film ala sensor KPI.

Kalaupun ada bagian yang sedikit eror pada mesin, itu hanya beberapa selang pneumatic ke piston. Cara memperbaiki kerusakan mesin press gelas plastik bagian ini mudah, cukup dengan mengganti selang. Harga spare partnya murah, tidak sampai menjual aset atau memPHK beberapa pekerja. Dan saran kami ke beliau: selalu bersihkan conveyor setelah proses produksi selesai. Ini penting, terutama buat mereka pengusaha teh kemasan. Sebaik apapun kualitas stainless stell tidak mungkin betah berpasangan dengan air manis ini terus-terusan.

Dari tempat pak Michael, kami sengaja tidak singgah ke kantor Benua Mesin Surabaya. Alasanya masih ada dua kota lagi yang wajib dikunjungi; Malang dan Jember. Meski sebetulnya, dalam hati Deni dan Irfan, dua teknisi handal kami ada dalih yang lebih problematis; CS disana terlalu sayang untuk sekedar dilewatkan. Ya Tuhan, seandainya saat itu bukan bulan Puasa. Dan perjalan kami berlanjut ke pabrik sablon plastik di Genteng. Tidak lama memang. Pemilik pabrik juga sedang keluar kota. Mereka memproduksi roll film untuk cup sealer dalam jumlah lumayan besar.  Belum ada cup plastik yang kami lihat disini sebab memang fokus mereka hanya ke label atau sablon kemasan. Dan nampak juga jalan distribusi belum sampai menyentuh provinsi lain. Hanya sekitar Sidoarjo, Gresik, paling jauh Kediri.

Perjalanan ini pun berlanjut ke Malang. Rencana kami akan menginap disana satu malam sebelum menuju Jember. Perjalanan ke Malang cukup cepat, kami lewat Pandaan. Di pinggir jalan terlihat salah satu gerbang Taman Safari. Prigen. Tempat wisata ini konon merupakan yang terbesar atau terluas di Asia Tenggara. Tidak sampai 1 jam dari situ sudah sampai Lawang. Kami langsung menuju pabrik dan bertemu mesin canggih cup sealer GD series 4 line. Sebetulnya beliau membeli cup sealer ini dalam kondisi bekas dari tempat kami. Kebetulan saat itu ada pengusaha gagal yang menjual cup sealer GD. Menurut cerita, pengusaha tersebut memiliki beberapa wanita simpanan. Mungkin saja ini yang membuatnya gagal fokus. Sebenarnya masalah sepele ini bisa diatasi jika dia mau bilang ada Aqua. Tapi ya seperti itu, tidak enak. Beliau kan pengusaha air minum kemasan juga. Oke kembali ke topik, kami tidak ingin bergosip lebih lama lagi. Jadi ceritanya, mesin cup sealer bekas di Malang tersebut mengalami kendala pada piston di filling yang macet. Hanya satu sih namun kapasitas produksi jelas berkurang. Selain itu photo sensor pemindai cup (gelas plastik) juga mulai eror. Dua kerusakan bagian ini kami perbaiki. Cukup cepat, tidak sampai dua jam sudah selesai.

Menunggu waktu berbuka, kami konkow sebentar di sekitar kampus UM dan Brawijaya. Matos? Lewati saja. Banyak hal lebih menarik daripada sekedar berbelanja dan melihat ibu-ibu ribut melihat diskon baju. Di sekitar daerah itu kami menuju gang. Tak banyak pemandangan sedap terlihat sebab puasa jatuh di bulan Juni dimana mahasiswi sudah duduk manis di rumah masing-masing. Deni mengajak untuk membeli nasi goreng mawut. Mudah menemukanya di pinggir jalan. Di samping penjual nasi goreng itu terdapat pula penjual gorengan dan minuman kemasan seperti es jus, cappucino cincau dan bubble drink. Saya tidak terlalu suka dengan gorengan. Untuk minum lebih baik es jus saja untuk memompa stamina dengan instan.

mesin cup sealer manual EtonSaya memesan satu jus alpukat. Pemilik juice stall ini berumur 40an. Ia tidak nampak terlihat sebagai wanita yang kesusahan. Mungkin usahanya laris. Raut mukanya tajam namun senyumnya ramah. Dengan otot lengan cukup tegap, ia mengayuh tuas cup sealer manual Eton yang sudah mulai terlihat karat di beberapa bagian. Mesin cup sealer Eton dan Matrix memang ramai di pasaran. Cup sealer bekasnya banyak sekali yang menjual. Harganya juga murah tidak sampai 2 juta untuk jenis manual. Meski populer, kami rasa Eton bukan merk cup sealer terbaik di pasaran, WYZ F1 atau RC95 jelas mempunyai kualitas diatasnya. Dan bila hendak membeli cup sealer bekas perhatikan beberapa hal berikut.

Tips sederhana membeli cup sealer bekas

Beberapa pengusaha minuman kemasan membeli mesin press gelas plastik bekas karena tergoda harga yang murah karena tidak mungkin mereka tergoda SPGnya. Menurut sistem kerja mesin, jenis cup sealer ada dua; manual dan otomatis. Untuk cup sealer bekas dengan sistem manual cukup perhatikan apa sealingnya masih bagus. Cek seberapa cepat ia memanas. Cup sealer yang bagus setidaknya sudah bisa digunakan hanya dengan pemanasan awal sekitar 3-5 menit dengan temperature 250C. Saat suhu yang dikehendaki tercapai turunkan suhu pada button hingga 150C. Cobalah untuk menyegel cup selama 2-3 detik. Jika cup plastik benar-benar rapat berarti cup sealing masih bagus. Perhatikan juga apa cup sealer ini cepat panas (over heating). Masalah ini kerap terjadi pada cup sealer bekas karena termo control sudah tidak normal atau sealing partnya mulai aus. Jika ini terjadi, cara paling mudah memperbaikinya adalah dengan mengolesi minyak. Kalau tidak ampuh beli saja mesin tutup gelas plastik yang baru.

Perlakuan berbeda bila membeli mesin cup sealer otomatis. Setidaknya anda harus mengecek tingkat keakuratan mesin menyegel label. Bila hasil 10 segelan pertama ada yang meleset, biasanya gambar label terlalu minggir, berarti ada kerusakan pada photo sensor. Dan proses ini lebih sulit lagi jika anda berniat membeli cup sealer GD series. Untuk tipe GD series, kebanyakan yang beredar import dari China, Malaysia atau Philipina. Sebelum membeli, pesan kami tanyakan kepada penjual bagaimana service after salenya. Kalau ga mudeng, tanya bagaimana garansinya saja.

Cukup itu tips yang bisa jadi bahan pertimbangan sebelum membeli cup sealer bekas. Dan saran terbaik dari saya pribadi; belilah cup sealer baru bila anda ingin benar-benar menekuni bisnis minuman kemasan dalam jangka waktu yang lama bukan sebagai usaha musiman. Ini karena harga cup sealer bekas sebenarnya tak terlampau jauh dengan yang masih segel.

Satu lagi, selain cup sealer sebetulnya juga ada tray sealer. Perbedaan utama terletak pada modul. Lebih enak kalau disebut mesin press gelas plastik bentuk box (kotak). Harga mesin penutup gelas jenis ini lebih mahal. Gambarnya seperti di bawah.

mesin press gelas plastik kotak

Memperbaiki Cup Sealer di Jember

Tantangan sebenarnya datang dari kota barat Banyuwangi ini. Setelah satu malam menginap di Malang kami menuju Jember. Waktu perjalanan sekitar 4 jam 0melewati Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Kualitas aspal probolinggo-lumajang terbilang buruk. Berkendara diantara truk-truk besar dengan jalanan bergelombang adalah ujian bulan puasa yang sebenar-benarnya. Jangan tanya kapan pemerintah akan membenahi hal ini. Orang Indonesia adalah jenis manusia yang dicintai Tuhan karena kesabaranya.

sungai jember

Saat mencapai Lumajang bagian timur, jalanan sudah mulai memberi kenyamanan. Ada sungai di sisi aspal. Sekilas kami lihat beberapa wanita mandi disana. Tidak ada yang muda tentu. Sepuluh menit kemudian, mobil melewati tapal batas besar dengan ucapan selamat datang Jember dan terus melaju hingga pusat kota. Kesan pertama cukup ramai. Jember sekarang jauh lebih berkembang daripada terakhir saya kesana 5 tahun lalu. Di bulan Agustus, Pemkot biasanya akan menggelar karvanal yang tersohor itu, JFC namanya. Kalau kalian belum pernah mendengar coba liat di Metro TV, biasanya mereka memberitakan acara tahunan ini.

Dan kami sampai di sebuah pabrik yang tak terlalu besar. Ada sedikit kekawatiran bagaimana cara memperbaiki mesin cip sealer GD series 6 line dengan sistem mekanik yang macet total sebab kami tidak membawa spare part lengkap. Inilah sebetulnya kelemahan sistem mekanik. Memang sistem ini mempunyai kemampuan produksi super cepat. Namun satu saja ada kerusakan semua terhenti. Setelah kami cek ternyata berita macetnya mesin cup sealer ini tidak seheboh dalam chat WA. Awalnya kami menduga ada crash antar noodle rooler bearingnya, ternyata hanya masalah sensor. Jadi sensor light tidak menyala meski kabel connector sudah terpasang sempurna. Pada mesin pneumatic, kegagalan sensor hanya mengakibatkan filling part tidak bisa mendeteksi bila di dalam conveyor ada cup atau tidak dan hal ini tidak akan membuat mesin mati.

memperbaiki cup sealer

Untuk memperbaiki kerusakan ini, pertama Irfan melepas konektor tersebut dan memasangnya lagi. Setelah itu kami mencobanya dan cara ini ternyata kurang efektif. Lalu kami mengganti dengan yang baru. Dan cling, semua normal.

Setelah semua urusan dengan cup sealer ini selesai, kami tidak bermalam di Jember namun langsung menuju Bromo. Gunung ini seperti bergantung di atas awan. Di Lumajang sebetulnya juga ada B29 yang memiliki status itu. Kami tidak sempat menuju sana sebab arah perjalananya berbeda. Untuk ke B29 harus melewati piket nol.

Di Bromo juga sebentar sebab kami harus segera ke bandara. Tidak banyak waktu untuk jalan-jalan di Surbaya meski jatah tur kerja masih 2 hari lagi. Sepertinya lebih nyaman dudu manis di rumah. Deni ke Cirebon, Irfan Ke Bekasi dan saya sendiri ke Bandung. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat tawa si kecil menyambut hangat kepulangan kita.

Leave a comment